donderdag 12 maart 2009

SIDIK KERTAPATI - TOKOH NASIONAL PEJUANG '45

SIDIK KERTAPATI – TOKOH NASIONAL PEJUANG ‘45


Nama Sidik Kertapati bagi masyarakat Indonesia dewasa ini tidak banyak diketahui. Kalau di kalangan intelektual saja banyak yang tidak mengenal, apalagi dikalangan orang awam. Pada hal pada tahun1950an dia merupakan tokoh politik terkenal di dalam Dewan Perwakilan Rakyat dalam membela kaum tani. Hal ini bisa dimaklumi, sebab setelah di Indonesia kekuasaan dipegang oleh rejim Orde Baru segala-galanya dijungkir balikkan. Dalam kurun waktu lebih dari 3 dasa warsa rejim Orde Baru telah memutar balikkan dan membengkokkan sejarah Indonesia, terutama yang berkaitan dengan sejarah para pejuang pendiri dan penegak negara Indonesia yang garis politiknya berseberangan. Lebih dari 3 dasa warsa rakyat dicekoki dengan kebohongan dan kebatilan.

Maka peringatan wafatnya bapak Sidik Kertapati hari ini, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pembela Korban ’65 (LPK’65) dengan dukungan organisasi-organisasi masyarakat Indonesia di Nederland, yaitu Perhimpunan Persaudaraan Indonesia, Stichting Indonezie Studies, Stichting Indonesia Sejahtera, Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia, Stichting Sapulidi, Perwakilan GRI di Nederland, Perhimpunan Dokumentasi, Stichting Indonesia Media, Organisasi Wanita “Dian”, Paguyuban Arisan Utrecht dan Arisan Ibu-Ibu Amsterdam, diharapkan bisa menjadi sarana untuk mengingatkan kebenaran sejarah, mengambil pelajarannya dan meluruskan yang telah dibengkokkan sesuai amanat “Jasmerah”nya Bung Karno: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” Tentu saja bukan maksud kita memuji-muji dan memuja-muja , apalagi mengkultuskan Sidik Kertapati, tapi kita tidak boleh meninggalkan sejarah, kita perlu mengenang, menghormati dan menghargai jasa-jasanya kepada nusa dan bangsa.

Seperti kita ketahui, Bung Sidik Kertapati dilahirkan di Klungkung Selatan, Bali pada tahun 1920. Sejak masa mudanya telah aktif berkecimpung di dalam pergerakan politik Gerindom (Gerakan Indonesia Merdeka) yang berjuang untuk Indonesia Merdeka. Sidik Kertapati adalah salah satu tokoh dalam Dewan Eksekutif Gerindom., yang didirikan oleh pemuda-pemuda revoluioner anti fasis sebagai reaksi pembubaran PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), yang berpusat di gedung Menteng 31, melakukan kegiatan-kegiatan membangun jaringan-jaringan pemuda revolusioner anti fasis dengan massa tani, buruh, pegawai kantor, mahasiswa dan angkatan bersenjata. Gerindom juga melakukan hubungan dengan tokoh gerakan revolusioner lainnya, misalnya Wikana, Chaerul Saleh dan lain-lainnya. Pedoman kerja Gerindom adalah sistem sel dan machtvorming.

Menjelang Proklamsi 17 Agustus 45 pemuda Sidik Kertapati juga melibatkan diri dalam gerakan revolusi bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API), yang bermarkas besar di Menteng 31. Pada detik-detik genting tanggal 16 Agustus 1945 inilah Sidik Kertapati bersama-sama dengan pemuda-pemuda revolusioner lainnya, a.l. DN Aidit, Armunanto, AM Hanafi, mengerahkan tenaganya dengan penuh dinamika menghubungi sel-sel di bawah tanah untuk mempersiapkan kekuatan rakyat dalam menghadapi segala kemungkinan berkaitan dengan rencana Proklamasi Kemerdekaan.
Pengalaman dan pengamatan dalam kancah revolusi tersebut kemudian dia bukukan dengan judul “Sekitar Proklamasi 17 Agustus 45”.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia tidaklah berarti bahwa semuanya sudah beres, sebab realitasnya Jepang masih berkuasa. Bahkan sehari sesudah suksesnya rapat raksasa 19 September 1945 di lapangan Ikada, di mana Bung Karno hanya berpidato 10 menit, tapi toh pada tanggal 20 September pasukan Jepang mengepung markas Menteng 31 dan melakukan penangkapan terhadap para pimpinannya, a.l. Sidik Kertapati. Dari tahanan di markas Kempeitei kemudian dipindahkan ke penjara Bukitduri, dari mana Sidik Kertapati berhasil melarikan diri untuk langsung aktif bersama-sama tokoh-tokoh API (Angkatan Pemuda Indonesia) membangun organisasi perlawanan untuk membela dan mempertahankan kedaulatan negara RI dari ancaman agressi Belanda yang datang membonceng tentara sekutu.

Ketika kaum kolonialis Belanda membonceng tentara sekutu dengan tujuan menegakkan kekuasaan kolonialnya kembali atas Indonesia, maka pecahlah perang Indonesia-Belanda. Pemuda Sidik Kertapati dalam situasi tersebut terjun dalam perjuangan bersenjata, melakukan perang gerilya bersama-sama dengan laskarnya melawan tentara Belanda di daerah Parahiyangan (Jawa Barat) dan bersamaan itu juga melawan pembrontak DI (Darul Islam) yang membahayakan eksistensi Negara Indonesia. Penderitaan yang berkepanjangan telah dialami Sidik Kertapati karena peluru yang bersarang di pinggangnya dalam salah satu pertempuran.

Sesudah perang Indonesia-Belanda berakhir dengan diakuinya kedaulatan Negara Indonesia, Sidik Kertapati melanjutkan gerakan perjuangannya di akar rumput untuk membela kepentingan kaum tani melalui organisasi Sarekat Tani Indonesia (SAKTI) yang dipimpinnya, yang kemudian berfusi dengan Barisan Tani Indonesia (BTI). Perjuangan tersebut dilanjutkan
di arena Dewan Perwakilan Rakyat berkaitan dengan kasus Tanjungmorawa, yang mengakibatkan jatuhnya Kabinet Wilopo tahun 1951. Betapa hebatnya tokoh Sidik Kertapati dengan mosinya (mosi-tidak percaya) terhadap pemerintah mengakibatkan jatuhnya Kabinet Wilopo.

Demikianlah sejarah perjuangan panjang non stop Sidik Kertapati yang berubah-ubah bentuknya sesuai tuntutan situasi pada waktunya: dari perjuangan politik menjelang proklamasi, perjuangan bersenjata melawan agressi Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia, perjuangan melawan pembrontakan DI/TII, perjuangan membela rakyat tani dalam organisasi SAKTI (Sarekat Kaum Tani Indonesia) sampai perjuangan di Parlemen yang mengakibatkan jatuhnya kabinet Wilopo. Lembaran sejarah tersebut tidak mungkin bisa dibuang begitu saja seperti membuang lembaran halaman buku sejarah.
Sebagaimana tidak mungkinnya membuang lembaran sejarah hitam kekuasaan otoriter 32 tahun Orde Baru yang mengebiri, memanipulasi dan memutar balikkan sejarah Indonesia dengan memanfaatkan kasus peristiwa G30S.

Maka dari itu, kiranya tidak berlebih-lebihan kalau kita mengatakan bahwa Bung Sidik Kertapati adalah Tokoh Nasional Pejuang 45, salah satu tokoh pendiri dan pembela RI baik dari ancaman luar maupun dalam. Sayang kata sakti Bung Karno: “jasmerah” tampaknya sudah dicampakkan oleh banyak orang, terutama para tokoh politik dan tokoh masyarakat dewasa ini, yang telah larut dalam arus hedonisme di lautan merebaknya neo-liberalisme di Indonesia, sehingga lupa kepada sejarah, lupa kepada rakyat dan lupa kepada pejuang-pejuang nasional yang telah berjasa dalam perjuangan mendirikan dan menegakkan Republik Indonesia.


Penghargaan terhadap tokoh pejuang nasional haruslah diberikan kepada yang bersangkutan tanpa membeda-bedakan keanggotaan partai yang disandang, agama, suku dan etniknya. Kriteria tunggal untuk itu adalah jasa-jasanya dalam perjuangan untuk negara dan bangsa. Misalnya kita mengenal pahlawan Slamet Riyadi (brigjen anumerta) yang gugur dalam menumpas RMS. Kita mengenal Yos Sudarso, yang gugur dalam perang laut di masa perjuangan untuk merebut kembali Irian Barat dari cengkeraman kolonialisme Belanda. Tidak pernah kita persoalkan agama Katholik yang mereka imani, tapi jasa-jasa merekalah sebagai kriterianya. Tapi untuk Sidik Kertapati tampaknya berlaku kriteria lain, sehingga penghargaan dan penghormatan kepadanya sebagai Tokoh Pejuang Nasional ’45 tidak kunjung datang. Jasa-jasanya yang telah diberikan kepada nusa dan bangsa dilupakan atau digelapkan oleh suatu sistem kekuasaan otoriter yang puluhan tahun menindas demokrasi di Indonesia, sedemikian rupa sehingga kini tidak banyak orang mengetahui siapa itu Sidik Kertapati.

Boro-boro penyelenggara negara memberikan penghargaan dan penghormatan, bahkan Sidik Kertapati yang lama terdampar di luar negeri sebagai korban pelanggaran HAM yang dilakukan penguasa Orde Baru berkaitan peristiwa G30S, sampai akhir hayatnya pun belum juga kunjung datang keadilan yang berhak dia terima.

Alhamdulillah, sangat membanggakan dan menggembirakan bahwa sahabat-sahabat Sidik Kertapati di Negeri Belanda dan negeri-negeri lainnya tidak melupakan jasa-jasanya terhadap tanah air dan bangsa. Bagi kita – para sahabat – tidak ada kesangsian sedikitpun bahwa Sidik Kertapati adalah Tokoh Nasional Pejuang ‘45, yang berhak mendapatkan penghormatan dan penghargaan nasional. Dan sejatinya penghormatan dan penghargaan tersebut adalah porsi penuh bagi yang berhak: Sidik Kertapati, Tokoh Nasional Pejuang ’45.
Semoga arwah almarhum Sidik Kertapati diterima Allah s.w.t. yang maha Pengasih dan Penyayang, semoga mendapat pahala atas amal baiknya dan mendapat ampunan atas dosa dan kesalahannya. Semoga pengalaman perjuangan panjang dan gigih almarhum merupakan fajar menyingsing di ufuk hati nurani generasi mendatang demi tegaknya keadilan dan demokrasi di Indonesia. Amien.

Diemen, Negeri Belanda, 12 Agustus 2007
Ketua Umum Lembaga Pembela Korban 65, Negeri Belanda
MD Kartaprawira

Geen opmerkingen:

Een reactie plaatsen